Jumat, 15 Juni 2018

Terbawa Suasana

Hari ini adalah hari kedua lebaran. Sehari setelah semua keluarga besar berkumpul dan saling bertukar sapa serta kabar terbarunya. Ketika sebanyak itu orang berkumpul, tentu makin beragamlah topik pembicaraan (dan tentu ndak bisa kita mengatur hal-hal yang sebaiknya tidak dibicarakan). Belum hilang rasa ndak nyamannya ketika diburu pertanyaan;
"Sekarang dinas dimana?"
"Udah ada calon belum? Nanti dulu ya nikahnya nunggu mbak ini dan mbak ini juga belum."
"Jadi mau lanjut kuliah lagi?"
Dan sejuta pertanyaan penuh 'perhatian' yang lain.

Selain pertanyaan-pertanyaan itu, banyak juga saudara-saudara yang sudah berganti status. Baru saja menikah. Alhamdulillah baru saja Allah tambahkan rezeki yaitu anak, dll. Juga kawan-kawan yang mengirimkan ucapan lebaran dengan format baru yaitu *fulanah dan suami (beserta anak)*. Kalau masalah ini mah pilihannya sebagai muslim yang baik adalah ikut berbahagia atas kebahagiaan para saudara ya..

Kedua kondisi diatas yang pada akhirnya sadar atau tidak membuat kita terkadang 'terbawa suasana'. Terbawa suasana untuk mengenalkan orang baru pada keluarga besar, karena saat itu lah semua orang membawa keluarga masing-masing. Apalagi ditambah pembicaraan teman-teman pada usia segini adalah mengenai persiapan pernikahan. Disertai kenyataan bahwa para sahabat dekat satu persatu menemukan orang yang sudah mantap untuk mengarungi kehidupan ke depan bersama. Waduh, selanjutnya tinggal menunggu waktu saja untuk mendengarkan kata hati yang mulai bertanya 'trus kamu kapan sin?'

Tapi semoga kita tidak lupa.
Sebagai seorang muslim, pernikahan kita ini tidak hanya mencakup dimensi dunia saja. Gampang kalau gitu mah, tinggal siapa yang mau sama kita. Oke, langsung nikah.
Lebih dari itu, pernikahan kita mencakup dua dimensi, dimensi dunia dan dimensi akhirat. Orang yang pada akhirnya menikah dengan kita adalah partner dalam perjalanan kita menuju surganya Allah. Yang udah ketika sudah dipilih ya maka itu yang akan menemani jatuh bangunnya usaha kita. Ndak akan bisa ganti. So, we better watch our step.

Konsekuensi di atas seharusnya membuat kita lebih berhati-hati dalam menentukan keputusan. Dan tentu tidak boleh main-main dan hanya mengandalkan perasaan. Banyak aspek yang harus dilihat dalam sosok laki-laki yang datang. Yang tentu standarnya adalah kebaikan agama. Ndak masalah waktu kita ndak sama dengan teman-teman yang lain. Karena tiap orang punya zona waktunya masing-masing. Ndak usah merasa lebih buruk ketika teman sudah dalam prosesnya dan kita belum, insya Allah tidak akan mengurangi nilai kita dimata Allah kok. Terus tanamkan dalam hati ya.. Karena ini adalah keputusan yang akan berpengaruh besar pada akhiratmu, jadi ndak boleh asal-asalan ya? :)

So, stay sane my dear..
Ikhlaskan saja semua. Ndak ada yang pasti sampai Allah tentukan itu pasti. Tetap gunakan otaknya ya. I love you from deepest my heart..
Share:

0 komentar:

Posting Komentar