Senin, 05 Agustus 2013

Tentang Mimpi

Mimpi. Sudah setahun ini aku asing dengan kata-kata itu. Tak pernah sedikitpun ku singgung. Dan ketika ditanya Mr dulu, aku berusaha membangun mimpi-mimpi baru. Seolah lupa, bahwa aku punya sesuatu yg sudah ku susun. Mungkin karena belum ku tuliskan dan karena lemahku, sehingga draft mimpi itu tergeser oleh lembaran NSC yg tertumpuk dalam hidupku.

Hingga sampai kemarin. Bertemulah aku dengan kawan-kawan seperjuangan jaman SMA kemarin. Yunis, Ain, dan Arif. Malu betul berada disekitar mereka. Mereka yang masih memperjuangkan mimpi-mimpi mereka. Tak pernah lelah. Lihatlah saja, tumpukan draft-draft dan air mata mereka yg tak jarang berjatuhan jika membincangkan masalah cita-cita kami ini. Sedangkan aku? Memilih untuk menyerah karena menganggap mimpiku ini hal mustahil. Memalukan. Tak pernah aku merasa se-pengecut ini sebelumnya.

Qadarullah. Diantara kami memang sudah ada yg bisa terwujud salah satu tapak menuju mimpinya. Barakallah untuk saudara kami, Arif Fauzan yang  September ini insya Allah terbang ke Jepang untuk menuntut ilmu disana. Meninggalkan kami; saya, Ain, dan Yunis yang masih harus bekerja keras untuk mewujudkan tahap per tahap impian kami. Meninggalkan semangat membara bagi jiwa-jiwa kami yang seperti mendapat suntikan energi dari keberangkatannya. Bahwa tak ada mimpi yang tak mungkin terwujud atas izinNya.

Tertampar-tampar karena masih bersantai-santai dan sama sekali tak bermanfaat, aku pun mulai melirik kotak di sudut hati. Kotak berdebu yang berisi mimpi-mimpi di dalamnya. Aku ingin memperjuangkannya kembali. Aku tak mau selemah ini. Pasti ada jalan, pasti. Baru saja aku bersihkan kotak itu dan mulai menyusun kembali mimpi-mimpi itu, masuklah pemecut pertama.
Saat itu sedang ngobrol dengan Ain, dan ia bercerita bahwa ia sedang menulis draft untuk sebuah lomba tentang Disaster Management. Oh man, bidangku itu. Akhirnya untuk pertama kali, insya Allah aku akan mencoba  untuk ikut lomba  tingkat internasional. Harus banyak referensi yg ku baca, diskusi yg ku lakukan. Dan bismillah, moga Allah ridhoi..
Yah, itulah yg ku sebut pemecut pertama. Baru saja aku mantapkan hati untuk memperjuangkan kembali mimpi-mimpi itu, Allah langsung beri aku penguji. Semoga aku lulus dalam ujian ini.

Beberapa hari selanjutnya, berawal dari ngomongin PKM, saya dan salah satu saudara (sebut saja Upin) membincangkan tentang mimpi kami.  Hingga sampailah pada pesan menohok itu;
"Kamu cuma bermimpi gimana hasil mimpi kamu terwujud. Tapi mengabaikan langkah-langkahnya. Cobalah membangun langkah-langkah yang kecil tapi konkrit."

Dyarrrr. Seperti tertancap sembilu di hati hingga menembus bagian belakang tubuh. Iya, bener banget omongannya. Selama ini aku baru sampai pada tahap ngayal besok jadi volunteer UN, putar-putar dunia as a nurse dan Disaster Management's team. Baru sampe situ. Belum kepikiran harus ambil les bahasa inggris untuk ngejar TOEFL&IELTS. Belum memutuskan ambil les bahasa jepang kapan. Belum cari-cari  info apapun. Hmm, berasa bosok banget lah.
Terus kan ya, aku cerita sama ibu. Sama ibu semakin ditampar lagi.
"Kamu tu ya, dari kemarin bilang mau berlari, tapi melangkah pun belum."

Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Alhamdulillah..
Merasa beruntung sekali memiliki mereka di hidupku. Setiap tamparan  itu, berarti sekali..
Aku tak boleh mengecewakan Allah, orang-orang disekitarku lagi. Pun tak boleh mengecewakan diriku sendiri. Langkah-langkah itu harus diambil, segera. Semoga tak cuma omong doang.
IP bagus  dan stabil. Baca banyak buku. Diskusi dengan banyak orang. Les bahasa inggris. Memikirkan ummat setiap saat. Yg harus segera dilakukan. Konkrit!

Bismillahirrahmanirrahim. Moga tulisan ini dapat sebagai pengingat untuk kembali jika dunia mulai menggeser niat. Allahu Akbar!


Share:

2 komentar:

  1. aamiin... semangat nduk. :), Ane termasuk orang yang percaya bahwa bagi Allah mewujudkan impian kita yang kayanya sak Hohah itu adalah sipil markupil. So ngapain kita takut? :p gue aja masih bermimpi bakalan nikah ama bule :D

    BalasHapus
  2. mbak dhitaaaaaaa :')
    iyaaa, kita punya Allah yg lebih jauh lebih besar daripada mimpi kita itu. mudah bagi-Nya utk menjadikan mimpi kita terwujud :'D
    hahaha mimpi dari awal ane ketemu mbak dhita xD moga diberi yg terbaik ya mbak. terusnya anaknya lucu2 nanti ;)

    BalasHapus