Jadi gini, saya dan kawan-kawan kan sering berbincang mengenai kondisi amanah masing-masing dari kami. Dalam porsi yg memungkinkan tentunya. Terus saya yg paling bandel tuh seringnya. Saya sering merasa ingin dipimpin oleh mas'ul yg kece kaya' saudara saya yg lain. Yang saya maksud kece bukan dari segi fisik ya. Jauh ke dalam, tentu jiwa kepemimpinan. Yang mau mendengar dan bisa diajak diskusi (bahkan sampe gontok-gontokan) sampe anggotanya paham kenapa harus mengambil keputusan ini. Yang menerima kritik dan tentu saja mau dan sudi mengkritik anggotanya. Yang mau mengakui salah. Dan tentu saja, yang dapat diraih anggotanya. Reachable.
Dan seringnya, mas'ul saudara saya yg lain itu banyak yg memenuhi kriteria 'masul ideal' saya. Dan mas'ul saya.....ah, sudahlah.
Tapi men, bukan itu pointnya.
Setelah saya renungi, saya menjadi terpikir sesuatu. Ya, mungkin memang kualitas saya yg belum memenuhi untuk dipimpin mas'ul kece seperti itu. Dan memang para masul kece itu pun anggotanya tak kalah kece. Dan saya memang harus lebih banyak bercermin. Saya masih harus sangat belajar tentang ikhlas dan ridho. Rukun iman ke-6 itu memang benar-benar bukan perkara mudah. Tapi percayalah wahai hati, kau harus terus berjalan. Proses ini tak boleh berhenti^^
Jadi ingat sebuah kisah pas liqo jaman SMA, ada di buku Dalam Dekapan Ukhuwah juga seingetku. Alkisah ada rakyat yg mendatangi Ali ra pada masa itu.
Rakyat: "Hai Ali! Apa yg terjadi pada kondisi masyarakat saat ini? Keadaan mereka sudah berubah di zamanmu ini padahal sebelumnya keadaan mereka belum berubah di zaman Abu Bakar dan Umar?"
Ali: "Itu karena rakyat Abu Bakar dan Umar adalah saya dan orang-orang seperti saya. Sedangkan rakyatku adalah orang-orang seperti kamu ini."
Telak kan? :)
Yasudah, selamat berbenah epriwaan!!
"Kau pikir ini hanya tentang seni memimpin? Seni dipimpin pun tak kalah pentingnya."
0 komentar:
Posting Komentar