Selasa, 04 Agustus 2015

Diam.

Akhir-akhir ini aku benar-benar merasakan bahwa menjadi muslim yang cerdas adalah dia yang tau kapan waktunya untuk diam. Dan bagiku, itu lebih susah dibandingkan mengenali kapan waktu untuk berbicara. Dasarnya aku yang rame aja sih anaknya -_-"
Menjadi diam disaat yang tepat adalah salah satu bentuk kehati-hatian, yah hanya orang yang benar-benar dewasa saja menurutku yang bisa melakukan ini. Ah iya aku baru sadar! Selain kepekaan untuk tau apakah ini waktu yang tepat untuk diam, kita juga memerlukan skill untuk mendengar orang lain. Mendengar hingga ia tuntaskan pembicaraan. Menahan hasrat untuk langsung meluruskan ketika ada yang tidak tepat menurut kita. Karena bahkan untuk meluruskan sesuatu pun kita harus tau kondisi pendengarnya kan? Jangan sampai kita menggores luka hati orang lain karena dorongan emosi untuk meluruskan sesaat.
Oh iya, tapipun diam saja tidak cukup. Ketika kita sedang berusaha untuk diam mendengarkan orang lain hingga selesai, saat itu juga lah kita sedang belajar tentang manajemen emosi (iya, PR besarku hingga sekarang hix). Apalagi mendengar hal-hal yang menurut kita tidak sesuai dengan kenyataan. Jika pembicaraannya tidak tentang merendahkan diin kita, kok aku lebih memandang lebih baik semua emosi itu tetap tersimpan di dalam dan hanya senyuman yang disajikan. Ya, diamnya bukan diam mrengut yang dapat membuat orang yang berbicara menjadi tidak nyaman. Bukan hal gampang memang mendengar hal yang tidak pas tapi tetap senyum, tapi ya paling tidak jangan sampailah kita bermuka masam :)

Kita juga harus tau pada akhirnya pembicaraan mana yang perlu ditanggapi dan mana yang tidak. Keharmonisan hubungan pun jangan lupa dipertimbangkan. Jika memang bukan hal prinsip dan jika meluruskan saat itu juga malah membuat suasana tidak nyaman, kok aku pikir lebih baik saat itu kita diam dan berpikir cara lain untuk meluruskan yang lebih ahsan.
Menurutku, salah satu omongan yang sebaiknya tidak ditanggapi adalah omongan orang yang sedang emosi. Jika keluarlah omongan yang dapat menggores hati kita, aku yakin dia tidak sepenuhnya bermaksud untuk ngomong kaya gitu. Ya sudah diam saja, dan jika kita ada salah; perbaiki.

Diam kita pun jangan menjadi diam yang kosong. Diam yang menganalisis apakah pembicaraan di depan kita ini perlu ditanggapi, jika ditanggapi tanggapan apa yang paling pas, dan bagaimana cara yang paling baik untuk menyampaikan tanggapan.
Dan aku adalah orang yang cenderung diam jika pembicaraan adalah tentang diri sendiri. (Semoga) aku bukan seseorang yang suka cerita tentang diri sendiri hingga mendominasi pembicaraan hanya tentangku. Semoga kita semua terhindar dari itu. Karena aku salah satu yang percaya bahwa kita tidak perlu menceritakan tentang siapa kita ke orang lain. Karena musuh kita tak ingin tau dan saudara kita juga tidak butuh itu. Dan bukannya pembicaraan orang-orang besar adalah tentang ide bukan tentang orang? ;)

Karena muslim itu santun.

Tulisan ini adalah murni pengingat bagi diri saya pribadi. Semoga diam ini bisa menjadi diam bermakna dan memotivasi diri sendiri untuk mengamalkan apa yang saya tulis di atas.

Salaam!

Share:

1 komentar:

  1. alhamdulillah tulisannya bagus. bisa mengingatkan orang lain :)

    BalasHapus