Kamis, 10 Desember 2015

Bahagia itu....

Assalamualaikum Wr Wb
Selamat pagi shalihah.. Lama sekali tidak menyapa, sedih euy masih tersibukkan perkara dunia hingga belum bisa memprioritaskan untuk menulis lagi..

Judulnya apa banget ya? Haha. Iya, ini hasil pemikiran saya yang mulai berpilin-pilin tidak rapi di otak sehingga saya pikir harus segera dituliskan. Agar tidak menguap tanpa arti, agar jika ada yang tidak sesuai, bisa langsung dikoreksi.

Ya, kita semua adalah para pencari bahagia. Suatu kata yang erat kaitannya dengan jiwa. Semua pribadi memiliki hak ingin menempatkan kata bahagia bersebab apa. Tapi izinkanlah saya menuliskan perenungan saya tentang bahagia menurut saya.
Akhir-akhir ini saya sedang mencari-cari tentang bahagia ini. Saya cari dari beberapa tempat yang yah, mungkin sangat berbeda satu dengan lainnya. Bahkan tidak sedikit yang sangat bertolak belakang..

Pertama
Saya cari bahagia di antara gelak tawa kawan-kawan setelah menonton film favorit kami. Dengan gulungan cerita yang seakan tak pernah habis ketika disampaikan dan gelas besar wadah es kacang merah yang mulai kosong itu, saya mencari dimana letak bahagia. Dan ya, ia disana. Ia ada ketika kami bersama. Meloncat-loncat tidak beraturan seperti tak pernah lelah. Ikut tertawa ketika kami tertawa. Aku yakin ia disana. Namun yang hingga akhirnya aku sadar, ia pergi ketika kami pun pergi. Ketika kami kembali ke peraduan kami. Menjadi tidak sehat, bahagia hanya ada ketika kami bersama. Bukan, bahagia sejati bukan yang seperti ini...

Kedua
Saya temukan bahagia ketika menyentuhkan lutut-lutut dengan para pemburu yang dengan serius mencatat apa saja hikmah yang disampaikan dari para guru. Kumpulan orang-orang yang sedang berusaha mencari ridha Allah supaya sudi mengangkat kebodohan dari dalam diri. Bahagia ada disana! Ia ada di sudut di dekat pintu, sedang sibuk menggoreskan penanya di buku cokelat kesayangannya. Ia ada ketika saya mulai berpikir mencerna dan menganalisa apa yang diucapkan oleh guru.  Ia ada ketika saya mulai menyatukan simpul simpul informasi yang sudah ada di otak saya sebelumnya dengan informasi yang baru saja saya dapat. Ia ada, sungguh ia ada. Tapi ketika disini, bahagia tak tampak seperti sebelumnya. Ia hanya duduk manis dengan senyum yang dikulum. Sangat anggun.
Saya pun mulai berpikir, ini kah bahagia yang sesungguhnya?

Saya mulai merefleksikan. Sebenarnya siapakah bahagia itu? Mengapa ia bisa berbeda-beda bentuk. Dan ditengah kontemplasi itu, saya sadar. Bahagia itu bukan orang. Dia adalah apa yang kita bawa. Dan satu hal yang sangat penting; BAHAGIA ITU HADIRNYA DARI DALAM SINI *tunjuk hati* (dengan izin Allah tentunya).

Bahagia itu muncul dari dalam diri kita. Jangan sandarkan bahagia itu karena orang lain, karena keadaan, prestasi, atau karena yang lain. Jangan terlalu sibuk mencari diluar. Carilah ia di dalam dirimu. Dengarkan apa yang hati kita ingin sampaikan. Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mencari kebahagiaan diluar sana hingga suara-suara hati mulai tak terdengar. Ah aku pun tak tau, apakah ini sudah bisa dihitung sebagai dzalim kepada diri sendiri? L

Iya, cantik.. Bahagia itu  kau yang mengatur dan menentukan. Kau bisa memilih mendapatkan bahagiamu dari mana. Kau bisa cermati, bagaimana polanya bahagia bisa muncul dalam hatimu. Jika kau sudah bisa menemukan titik bahagia dari dalam dirimu, entah bagaimanapun nanti Allah akan berikan keadaan untukmu, kau selalu bisa menemukan bahagia disana.
Saya sadar bahwa masih ada tingkatan yang lebih tinggi daripada definisi bahagia saya ini. Yaitu bahagia ketika mengingat Allah, ketika menyandarkan semuanya kepada Allah. Tapi saya pun akui, saya masih berusaha untuk sampai pada titik itu. Semuanya bertahap ya, dan saya masih menuju kesana.

Saya mengingatkan diri saya pribadi khususnya dan teman-teman pada umumnya, mari kita membuat standar terendah bagi diri kita untuk bahagia. Semakin rendah standarnya, semakin mudah untuk bahagia. Jadikan tidak susah untuk membuat diri kita bahagia. Dan mari rasakan, hidup kita akan lebih berwarna! :D


Ssst. Saya beritahu kunci rahasia untuk bahagia; rasa syukur! 
Share:

0 komentar:

Posting Komentar