Assalamualaikum Wr Wb
Selamat pagi shalihah.. Lama sekali tidak menyapa, sedih euy
masih tersibukkan perkara dunia hingga belum bisa memprioritaskan untuk menulis
lagi..
Judulnya apa banget ya? Haha. Iya, ini hasil pemikiran saya
yang mulai berpilin-pilin tidak rapi di otak sehingga saya pikir harus segera
dituliskan. Agar tidak menguap tanpa arti, agar jika ada yang tidak sesuai, bisa
langsung dikoreksi.
Ya, kita semua adalah para pencari bahagia. Suatu kata yang
erat kaitannya dengan jiwa. Semua pribadi memiliki hak ingin menempatkan kata
bahagia bersebab apa. Tapi izinkanlah saya menuliskan perenungan saya tentang
bahagia menurut saya.
Akhir-akhir ini saya sedang mencari-cari tentang bahagia
ini. Saya cari dari beberapa tempat yang yah, mungkin sangat berbeda satu
dengan lainnya. Bahkan tidak sedikit yang sangat bertolak belakang..
Pertama
Saya cari bahagia di antara gelak tawa kawan-kawan setelah
menonton film favorit kami. Dengan gulungan cerita yang seakan tak pernah habis ketika disampaikan
dan gelas besar wadah es kacang merah yang mulai kosong itu, saya mencari
dimana letak bahagia. Dan ya, ia disana. Ia ada ketika kami bersama. Meloncat-loncat
tidak beraturan seperti tak pernah lelah. Ikut tertawa ketika kami tertawa. Aku
yakin ia disana. Namun yang hingga akhirnya aku sadar, ia pergi ketika kami pun
pergi. Ketika kami kembali ke peraduan kami. Menjadi tidak sehat, bahagia hanya
ada ketika kami bersama. Bukan, bahagia sejati bukan yang seperti ini...
Kedua
Saya temukan bahagia ketika menyentuhkan lutut-lutut dengan
para pemburu yang dengan serius mencatat apa saja hikmah yang disampaikan dari
para guru. Kumpulan orang-orang yang sedang berusaha mencari ridha Allah supaya
sudi mengangkat kebodohan dari dalam diri. Bahagia ada disana! Ia ada di sudut
di dekat pintu, sedang sibuk menggoreskan penanya di buku cokelat
kesayangannya. Ia ada ketika saya mulai berpikir mencerna dan menganalisa apa
yang diucapkan oleh guru. Ia ada ketika
saya mulai menyatukan simpul simpul informasi yang sudah ada di otak saya
sebelumnya dengan informasi yang baru saja saya dapat. Ia ada, sungguh ia ada.
Tapi ketika disini, bahagia tak tampak seperti sebelumnya. Ia hanya duduk manis
dengan senyum yang dikulum. Sangat anggun.
Saya pun mulai berpikir, ini kah bahagia yang sesungguhnya?
Saya mulai merefleksikan. Sebenarnya siapakah bahagia itu?
Mengapa ia bisa berbeda-beda bentuk. Dan ditengah kontemplasi itu, saya sadar.
Bahagia itu bukan orang. Dia adalah apa yang kita bawa. Dan satu hal yang
sangat penting; BAHAGIA ITU HADIRNYA DARI DALAM SINI *tunjuk hati* (dengan izin
Allah tentunya).
Bahagia itu muncul dari dalam diri kita. Jangan sandarkan
bahagia itu karena orang lain, karena keadaan, prestasi, atau karena yang lain.
Jangan terlalu sibuk mencari diluar. Carilah ia di dalam dirimu. Dengarkan apa
yang hati kita ingin sampaikan. Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mencari
kebahagiaan diluar sana hingga suara-suara hati mulai tak terdengar. Ah aku pun
tak tau, apakah ini sudah bisa dihitung sebagai dzalim kepada diri sendiri? L
Iya, cantik.. Bahagia itu
kau yang mengatur dan menentukan. Kau bisa memilih mendapatkan bahagiamu
dari mana. Kau bisa cermati, bagaimana polanya bahagia bisa muncul dalam
hatimu. Jika kau sudah bisa menemukan titik bahagia dari dalam dirimu, entah
bagaimanapun nanti Allah akan berikan keadaan untukmu, kau selalu bisa
menemukan bahagia disana.
Saya sadar bahwa masih ada tingkatan yang lebih tinggi
daripada definisi bahagia saya ini. Yaitu bahagia ketika mengingat Allah,
ketika menyandarkan semuanya kepada Allah. Tapi saya pun akui, saya masih
berusaha untuk sampai pada titik itu. Semuanya bertahap ya, dan saya masih
menuju kesana.
Saya mengingatkan diri saya pribadi khususnya dan
teman-teman pada umumnya, mari kita membuat standar terendah bagi diri kita
untuk bahagia. Semakin rendah standarnya, semakin mudah untuk bahagia. Jadikan
tidak susah untuk membuat diri kita bahagia. Dan mari rasakan, hidup kita akan
lebih berwarna! :D
Ssst. Saya beritahu kunci rahasia untuk bahagia; rasa syukur!
0 komentar:
Posting Komentar