7 Desember 2010
6.41 pm
Perjalanan pulang ke yogya. Gelap. Hanya nyanyian jangkrik yang terdengar. Para wanita itu masih saja mengobrolkan tentang hal-hal yang tidak seharusnya mereka bicarakan. Ah anggap saja angin lalu. Masih terpekur di depan laptop. Mencoba dan terus mencoba untuk mencoba merangkai butiran kata kata di dalam kepala yang terus berserakan di awang-awang. Masih pemula memang. Tapi akan terus berusaha mencoba. Iri dengan kecakapan mereka dalam menuangkan pikiran. Aku harus bisa lebih baik. Harus berkarya. Apapun itu. Apapun.
Klaten masih sama semenjak aku kanak dulu, Jalanan lebar. Pasar ramai. Warga ramah. Lampu sedikit. Entah apa yang membuat warga klaten suka gelap-gelapan. Ciri khas mereka kali. Ah entah spekulasiku ngawur sekali. Satu hal dari klaten yang tidak berubah sejak dulu. Jalanan sepi gelap dimana sumber cahaya hanya berasal dari lampu-lampu kendaraan. Ditemani sawah-sawah di kanan kirinya. Tak lupa dengan lumbung padinya yang aku kira dulu adalah rumah babi ngepet –pikiran yang sangat polos karena babi ngepet itu jahat dan lumbung padi itu berada di kegelapan. Gelap=jahat. Jadi lumbung padi=rumah babi ngepet. Tapi gelapnya klaten itu beda. Gelap yang menenangkan. Sunyi tapi hangat. Pepohonanan ini bak tersenyum ramah dalam kedinginan dan kemisteriusan dalam dirinya. Kesunyian ini bak merengkuh jiwa yang terlalu banyak hura-hura di kesehariannya. Ah, dasar manusia.. Lihat bintang di samping kaca jendela, berusaha mengajak berbincang para pepohonan yang hanya dibalas senyuman dingin –dan tentu saja hangat dari para pepohoonan.
Sudah sampai depan Prambanan sekarang. Suasana damai klaten pun berubah menjadi gemerlapnya Jogja,,Selamat tinggal klaten.. Semoga suatu saat kelak aku dapat mengenalkan anak-anakku dengan damainya kotamu. Semoga dirimu akan selalu damai seperti ini, seperti klaten kanakku :’)
0 komentar:
Posting Komentar